Kisah ‘Dukun AI’ Ramal Nasib Warga yang Melintas di Pusat Kota Seoul

Jakarta, MHA SF Indonesia

Suara gemerincing lonceng kecil terdengar dari sebuah gang di pusat kota

Seoul

, Korea Selatan (Korsel).

Gemerincing lonceng kecil yang menandai keberadaan seorang dukun atau

shaman

berada di lokasi tersebut. Tapi, ketika dihampiri,

shaman

itu ternyata adalah sebuah robot yang digerakkan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI).

Lokasi dukun AI itu di sebuah toko produk budaya yang berada di pusat ibu kota Korsel tersebut. Sosok-sosok

shaman

itu hadir sebagai avatar di layar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pengunjung, Kim Da-ae (36), mengaku merasakan pengalaman yang unik. Menurutnya apabila berkunjung ke dukun atau

shaman

sungguhan terasa menakutkan.

“Tapi [di sini], saya hanya lewat, dan membaca papan AI ini… Jadi saya masuk dengan santai,” katanya, dikutip dari

AFP

.

Avatar

shaman

AI itu memiliki karakter yang menyerupai sosok dalam animasi populer global saat ini ‘

KPop Demon Hunters

‘.

Saju

empat pilar takdir

Teknologi ini menggabungkan pengenalan suara dengan asisten virtual atau

chatbot

AI generatif, sehingga ‘shaman’ dan pelanggan dapat berinteraksi.

Sistem tersebut kemudian merujuk pada kepercayaan berusia ratusan tahun yang disebut ‘s

aju

‘ atau ’empat pilar takdir’. Saju itu digunakan untuk menafsirkan nasib pengunjung berdasarkan tahun, bulan, dan hari kelahiran.

Pengalaman ramalan shaman AI

Kim Da-ae masuk ke bilik

shaman

AI.

Di dalam bilik itu dia mengetik nama, jenis kelamin, dan tanggal lahirnya ke komputer.

Beberapa saat kemudian, seorang “dukun”-topeng melayang dengan proyeksi wajah manusia-memintanya menjelaskan kekhawatirannya melalui perangkat jemala alias

headset.

Beberapa detik kemudian, Kim menerima ‘jimat’ plastik dengan kode batang untuk dipindai ponselnya.

Kim memindainya untuk membaca ramalan secara rinci.

“Keberuntungan yang cerah dan seimbang. Tangguh menghadapi perubahan, dengan hubungan yang membawa keberuntungan,” demikian isi cetakan kertas lamaran yang dibaca Kim dengan nada terkesan.

“Saya merasa ada kesamaan dengan takdir saya karena sesuai dengan kepribadian saya, seperti menghargai hubungan sekaligus bersikap praktis,” sambungnya.

Tak jauh dari posisi Kim, seorang wisatawan asal Singapura, Amos Chun, pun menjadi ‘korban’

shaman

AI tersebut.

Chun mudah saja berinteraksi dengan dukun itu, karena

shaman AI

yang dihadapinya bisa beroperasi dalam empat bahasa–Korea, Inggris, Mandarin, dan Jepang.

Lantas, apa nasihat ramalan dari

shaman

AI untuk Chun? ‘Hindari Pengeluaran Impulsif!’

“Ramalannya cukup bagus, apalagi berasal dari AI,” kata Chun sambil tertawa. “Karena itu memang sesuatu yang sering saya lakukan,” sambungnya berseloroh.

(afp/kid)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video MHA SF]

Baca lagi: Lawan Vietnam, Kurniawan Yakin Mental Timnas Indonesia U-17 Pulih

Baca lagi: Ronaldo Ketagihan Datang ke Indonesia, Terpesona Atmosfer GBK

Baca lagi: JK Sebut Polemik Ceramah UGM Muncul Usai Singgung Ijazah Jokowi

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: